Pemilu Hanya Sebatas Lingkaran Setan

98

JAKARTA, WB – Pemerhati Politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, secara tegas mengatakan, pelaksanaan demokrasi yang dituangkan dalam sistem Pemilu saat ini, sesungguhnya bisa dikatakan sebagai demokrasi yang jauh dari kata sempurna.

 

Dibilang tidak sempurna, kata Yunarto, karena pesta demokrasi di Indonesia saat ini, hanyalah sebuah Pemilu dimana instrumennya hanya berpusat pada  berlomba-lomba, sikut-sikutan didalam memobilisasi massa.

 

“Pemilu kita, masih menjadi instrumen yang hanya sekedar demokrasi untuk mobilisasi massa semata dan bukan sebagai bentuk partisipasi. Pemilu itu cuma dijadikan alat oleh Caleg buat saling bunuh suara,” kata Yunarto, dalam diskusi politik mingguan di Warung Daun, Cikini, Sabtu (26/4/2014).

 

Tindakan saling sikut dan saling bunuh suara, lanjut Yunarto, merupakan bagian dari tindakan trend mobilisasi suara. Jadi tidak heran kalau nantinya, para caleg yang akrab dengan pejabat pemerintahan daerah atau yang langsung bersinggungan dengan penguasa dinasti, maka Caleg itulah yang melaju dan menjadi pemenang.

 

“Yang menang itu kalu Caleg beringgungan sama dinasti, Caleg yang banyak menyebar amplop. Karena sistemnya sendiri terbentuk dari konsekuensi, sehingga tercipta demokrasi dengan cara kuantitatif,” cibirnya.

 

Lebih jauh kata Yunarto, selain Pemilu yang hanya menghasilkan demokrasi yang kuantitatif, pelaksanaan Pemilu di 2014 ini tak ubahnya Pemilu yang berada dalam lingkaran setan. Pasalnya, polemik dari pelaksanaan Pemilu dari tahun-ketahunnya, hampir sama penyakitnya.

 

“Pemilu kita hanya terjebak pada lingkaran setan. Kita hanya akan mengulang pada perdebatan money politik, iklan kampanye, kecurangan penggelembungan suara, itu hanya debatan sama tiap tahun,” pungkas Yunarto. []