Penyandang Disabilitas Ungkapkan Beragam Manfaat Medsos

132

JAKARTA, WB – Media sosial sangat penting bagi penyandang disabilitas. Dengan media sosial, penyandang disabilitas dapat mengungkapkan eksistensi dirinya dan memanfaatkan jaringan secara luas.

Hal ini disampaikan aktivis sekaligus penyandang disabilitas asal Indonesia Cucu Saidah dalam Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2016 Sabtu (23/4) di Flinders University, Australia Selatan.

“Mulai banyak penyandang disabilitas yang memanfaatkan social media untuk mengungkapkan eksistensi mereka. Di media sosial mereka punya akses berteman, punya jaringan, bisa dapat pekerjaan, dan bahkan bisa melakukan bisnis,” tutur Cucu yang tengah kuliah master bidang Kebijakan Publik di Flinders University.

Sebagai salah satu peserta KIPI 2016 yang dihadiri oleh pelajar Indonesia dari berbagai belahan dunia seperti Mesir, Eropa, Amerika, Jepang, India, dan lain sebagainya, Cucu membawakan materi dengan tema “Social Media and Disability”.

“Telah banyak perubahan terjadi di Indonesia berkat berkembangnya media sosial dan bagaimana para penyandang disabilitas memanfaatkannya,” lanjut Cucu di hadapan peserta konferensi yang digelar selama dua hari, 22-23 April 2016.

Untuk itu pula, dalam konferensi yang bertema Digital Society towards the New Millenium: Maximising Opportunities, tidak lupa Cucu mengapresiasi peran media sosial di Indonesia yang selama ini telah menjadi wadah baginya untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas.

Meski demikian, lanjut Cucu, media sosial masih belum banyak mempengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia agar lebih ramah terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Maka dari itu, Cucu berharap sekali dengan berbagai bentuk kampanye yang tengah dilakukan kalangan disabilitas di media sosial, pemerintah Indonesia benar-benar mulai mengembangkan kebijakan yang inklusif sehingga penyandang disabilitas atau warga yang berkebutuhan khusus terakomodir dalam mengakses hak-haknya.

“Pemerintah harus pikirkan aturan yang inklusif dengan mengadopsi Konvensi hak-hak disabilitas. Untuk itu pula dibutuhkan undang-undang yang mampu menerjemahkan tanggung jawab negara dalam menjamin dan memenuhi hak-hak disabilitas dalam segala aspek. Sehingga, penyandang disabilitas tidak terisolasi,” harap Cucu.

Sejak awal tahun ini tinggal di Negara Kanguru, Cucu merasakan sekali keterbukaan akses bagi penyandang disabilitas di Australia.

“Saya kemana pun bisa sendirian. Bisa ke kampus dan ke tempat-tempat publik dengan naik kereta dan bus tanpa kesusahan. Ini yang perlu dicontoh oleh pemerintah Indonesia,” terang Cucu seperti disampaikan dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (23/4).

Kendati begitu, Cucu juga realistis. Baginya, membandingkan Australia dan Indonesia tidaklah adil.

“Setidaknya Pemerintah Pusat perlu mencontoh inisiatif-inisiatif kebijakan Pemerintah DKI Jakarta dan Bandung yang sudah mulai memperhatikan para penyandang disabilitas,” pungkas Cucu. [ ]