Terkait Plastik Air Minum Kemasan, Roso Daras : ASPADIN Lupa Tujuan Dirumuskan SNI

46

WARTABUANA –  Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (AJPKL) Roso Daras menyesalkan tindakan  Rachmat Hidayat, Ketua Umum Perkumpulan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN) yang telah mengirimi surat ke berbagai media dan meminta untuk menghapus berita tentang bahaya Bisfenol A (BPA).

Menurut Roso Daras, tindakan ASPADIN itu jelas bertentangan dengan kebebasan pers, dan nyata-nyata menunjukkan arogansi seolah sebagai pemegang kebenaran. ASPADIN berlindung di balik SNI dan BPOM.

Menurut Roso Daras, ASPADIN lupa bahwa tujuan dirumuskan Standar Nasional Indonesia (SNI) Air mineral ini yang merupakan revisi SNI 01-3553-2006 mengenai Air Minum dalam kemasan, dengan tujuan sebagai berikut:

Pada poin nomor 3 bertujuan,  melindungi kesehatan dan kepentingan konsumen. Nomor 4, menjamin perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab. Dan poin nomor 5, mendukung perkembangan dan diversifikasi produk industri air minum dalam kemasan.

“Jadi jelas tujuan dirumuskan SNI untuk melindungi kesehatan dan kepentingan konsumen. Konsumen harus mendapat informasi cukup di dalam kemasan. Informasi itu bukan hanya mencantumkan soal  isi dari makanan atau minuman tersebut. Tapi juga kemasan itu terbuat dari bahan apa? Jika mengandung  BPA katakan bahwa plastik kemasan itu mengandung BPA.  Informasi ini harus sampai kepada konsumen. Produsen tidak boleh menutupi ini,” ungkap Roso Daras dalam siaran pers pada Jumat (7/1/2021) lalu.

Roso Daras, Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (AJPKL) /ist

Semua konsumen harus diperlakukan secara adil dan mendapat informasi yang memadai. Harus mengingat juga bahwa produk makanan atau minuman itu juga akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil.

Pencantuman kandungan BPA, atau BPA Free bagi kemasan yang tidak mengandung BPA perlu dilakukan, supaya konsumen tahu dan lebih berhati-hati dalam memilih produk yang akan dikonsumsi.  Sebab soal bahaya BPA sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 20 Tahun 2019 di halaman 120 dalam kolom artikel, Persyaratan monomer BPA batas maksimal (bpj) adalah 0,6 untuk dikonsumsi oleh orang dewasa.

Akan berbeda jika makanan atau minuman dikonsumsi bayi, balita dan ibu hamil yang tidak mentolerir adanya kandungan BPA.

Kemasan makanan dan minuman itu harus memiliki prinsip keadilan. Semua konsumen harus diperlakukan secara adil dan mendapat informasi yang memadai. Harus mengingat juga bahwa produk makanan atau minuman itu juga akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil.

Sejalan dengan Roso Daras,  menurut peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)  Natalya Kurniawati, di dalam aturan Kementerian Kesehatan dan BPOM sudah lama menyatakan bahwa wadah makanan dan minuman yang mengandung BPA ini berbahaya. Dan apalagi kalau untuk dipakai di produk-produk kemasan yang dipakai berulang.

“Bahwa kita tidak mendukung untuk produk-produk kemasan yang mengandung  atau mendukung, berpotensi timbulnya BPA. Seperti misalnya kalau kita cari referensi jenis-jenis plastik daur ulang, atau bahan plastik di situ ada simbol-simbol dari mulai angka 1 sampai dengan angka 7. Nah yang angka 1 ini digunakan untuk produk- produk kemasan yang sekali pakai.  Dan di sini yang harus dilihat nomor 3, nomor 6 dan nomor 7 itu berbahaya bagi kesehatan,” ungkap Natalya Kurniawati baru – baru ini.

Natalya Kurniawati, Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) /ist

Masih menurut Natalya, plastik daur ulang tersebut tidak diperuntukkan  atau bersentuhan dengan makanan atau minuman, seperti  misalnya steroform, plastik untuk campuran pipa PVC  dan lain sebagainya. Kemudian di situ juga dilihat biasanya produk-produk kemasan lunch box atau kotak makanan dengan kode Polypropylene (PP) itu yang lebih aman.

“Di situ biasanya yang BPA free dan bisa dipakai ulang, tahan terhadap suhu tinggi. Ini yang biasanya dipilih dipakai untuk konsumen. Tapi tetap harus diperhatikan dari konsumen itu bukan dari nomor berapa yang dipakai itu bisa didaur ulang dan aman” tandas Natalya.[]