Tolak Pembangunan Pabrik Semen, Suku Samin Sambangi KPK

113

JAKARTA, WB- Puluhan warga suku Samin dari Kabupaten Pati mendatangi Gedung KPK, mereka bermaksud menyerahkan hasil bumi berupa rempah-rempah sebagai bentuk jalinan persaudaraan atau seduluran warga Samin.

Dengan penuh kesederhanaan warga Samin datang ke KPK memakai baju adat yakni baju dan celana kolor warna hitam dan juga iket kepala menyerupai blangkon sebagai ciri khas warga atau suku Samin.

Maksud kedatangan mereka selain mencurahkan rasa persaudaraan dengan memberikan hasil Bumi, Warga Samin juga bermaksud meminta dukungan KPK untuk senantiasa memperhatikan kondisi Alam disekitar pegunungan Kendeng dengan bersama-sama menolak berdirinya pabrik Semen yang dianggap akan mengancam kelestarian lingkungan.

“Pertama kami bermaksud memberikan hasil bumi ke KPK sebagai bentuk seduluran, hasil bumu itu berupa Telo, Jagung, Pisang Padi dan lain-lain. Kedua kami juga bermaksud meminta KPK untuk mendukung warga Samin atau sedulur sikep untuk menolak pembangunan pabrik Semen disekitar Gunung Kendeng,” ujar Gunarti salah satu Jaringan Masyarakat Peduli Pengunungan Kendeng (JMPPK).

Menurutnya alasan memberikan rempah-rempah karena sebagai warga yang masih memegang adat istiadat dan warisan luluhur. Ia mengaku hanya itu yang bisa diberikan dari hasil mereka bercocok tanam di sekitar gunung Kendeng.

“Ya namanya orang Desa, yang setiap hari bekerja sebagai petani bercocok tanam, ya itu lah yang bisa kami berikan karena hanya itu yang kami punya,” terangnya.

Pemberian itu sempat ditolak KPK, ia pun mengaku tidak tahu kalau KPK tidak boleh menerima pemberian apapun karena bisa diangap gratifikasi. Namun pada akhirnya pemberian itu diterima oleh KPK meski ia menyadari pemberian itu tidak seberapa dan terlihat sederhana.

“Tadinya memang sempat ditolak, karena kami nggak tahu kalau KPK nggak boleh menerima pemberian, tapi ya terserah KPK kalau mau diberikan ke siapa nantinya yang penting kami serahkan dulu,” jelasnya.

Kedatangan warga suku Samin ini berkaitan dengan adanya rencana pembangunan Pabrik Semen oleh PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang mengaku sebagai anak dari Perusahaan PT. Indocement Tunggal Perkasa (ITP), dikatakan Gunarti sudah melakukan sosialisasi rencana pembangunan Pabrik Semen dan rencana penyusunan AMDAL untuk pertambangan.

Pertambangan PT SM tersebut rencananya akan dilakukan di kawasan hutan yang dikelola oleh Perum perhutani Unit Jawa Tengah di wilayah KPH Pati dan KPH Grobogan seluas + 5.000 hektar. Wilayah tersebut sudah berada di kawasan Karst Sukolilo atau dikenal oleh masyarakat sebagai kawasan pegunungan Kendeng Utara.

Sementara, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, kawasan yang memiliki benteng alam kars merupakan kawasan lindung geologi. Sehingga rencana pertambangan PT. SMS berada di Kawasan Kars Sukolilo masuk kawasan lindung.

Oleh karenanya selain meminta dukungan kepada KPK, masyarakat suku Samin juga meminta kepada Kapolri untuk ikut membantu mengamankan kawasan lindung disekitar lereng Gunung Kendeng.

“JMPPK yang sebagian besar anggotanya adalah petani di Kawasan Pegunungan Kendeng meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk aktif melindungi masyarakat dari ancaman akitifitas pertambangan, demi tercipatanya keamanan bagi masyarakat sekitar pegunungan Kendeng serta terwujudnya lingkungan yang lestari,” paparnya.

Diketahui suku Samin atau yang biasa sebut sedulur Sikep adalah suku yang menyebar diwilayah Blora, Bojonegoro dan Pati. Mereka terbilang unik karena masih hidup dengan tradisi dan ajaran leluhur. Bahkan dari informasi yang di himpun suku Samin adalah termasuk Suku yang menolak bersinggungan dengan birokrasi warganya diketahui menolak untuk membuat KTP, menolak membayar Pajak, juga menolak membuat buku Nikah. Hal tersebut sudah tersebut sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda dan Jepang.[ ]