Zainal Bintang Sebut Golkar Siap Terima Priyo Jadi Ketum

38

JAKARTA, WB – Politikus senior Partai Golkar Zainal Bintang mengungkapkan ada dua nama tokoh yang layak menggantikan posisi Aburizal Bakri (ARB) dari jabatannya sebagai ketua umum partai berlambang pohon beringin itu.

Hal ini terkait pada hasil perolehan penghitungan suara cepat (quick count) Golkar di Pemilu Legislatif 9 April kemarin, di mana Golkar hanya mampu meraih 14 persen. Jelas target itu meleset dari perkiraan ARB yang sebelumnya mengatakan jika Golkar mampu meraih minimal suara 20 persen dan maksimal 35 persen pada rapat pimpinan nasional (Rapimnas) bulan Juni 2012 lalu.

“Kita lihat suara Golkar hanya meraih 14,5 persen dan itu beda tipis pada pemilu 2009 lalu. Padahal waktu rapimnas, beliau (ARB) bilang Golkar mampu meraih 35 persen dan minimun 20. Tapi ternyata meleset dari target dan itu ada konsekuensinya,” kata Zainal saat acara diskusi publik bertema “Peta Koalisi Pilpres 2014”, Sabtu (19/04/2014) di Warung Daun Restoran, Cikini.

Terlebih, ketua umum Golkar saat ini tidak menjabat sebagai apa-apa. Zainal menjelaskan, situasi ini amat berbeda ketika Ketua Umum Golkar yang kala itu masih dipegang oleh Akbar Tandjung dari tahun 1999 hingga 2004.

“Saat itu Pak Akbar Tandjung jadi Ketum Golkar dan juga Ketua DPR juga. Zaman Jusuf Kalla, beliau jadi wapres, dan sekarang ARB tidak menjabat apa-apa,” sesalnya.

Melihat dari hal itu, Zainal menyebut dua nama yang pantas menggantikan posisi ARB dari kursi ketum Golkar, yakni wakil ketua DPR Priyo Budi Santoso, dan wakil ketua umum Partai Golkar, Agung Laksono. Keduanya disebut sangat layak menjadi solusi atas mandegnya elektabilitas Golkar di tangan ARB. Selain menjadi Ketua Umum Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Priyo juga memegang jabatan di pemerintah. Sama dengan Agung Laksono, yang menjadi Ketua Umum Kosgoro 1957 juga menjadi Menkokesra.

“Tapi karena suara Golkar di Pileg kalah, dan jika nanti di Pilpres juga kalah, maka ARB mundur karena dikasih dua jabatan tidak bisa. Orang yang layak adalah Agung Laksono, dan Priyo. Tapi ada MS Hidayat (Menteri Perindustrian) yang informasinya saya dengar adalah SBY yang mendorong,” tuturnya.

Lebih lanjut, Zainal mengungkapkan, jika ARB dipaksakan tetap menjadi capres pada Pilpres Juni nanti, maka peluang Golkar untuk menang sangat kecil.

“Kalau dipaksakan tetap menjadi capres, peluang menang sangat kecil. Dengan bahasa lain itu kalah. Kalau kalah berarti peluang Golkar untuk jadi wapres juga nol dan itu bisa terulang di 2009,” imbuhnya.

Terkait pergantian posisi Ical sebagai ketum Golkar karena merosotnya perolehan suara di Pileg kemarin, Zainal menyebut Priyo cocok karena trennya anak muda. “Priyo trennya anak muda. Pastinya Golkar akan siap menerima,” ujarnya.[]