Home Potret Saat Virus Corona Menyebar, Rani Anggraini Safitri Tularkan ‘Virus Berbagi’

Saat Virus Corona Menyebar, Rani Anggraini Safitri Tularkan ‘Virus Berbagi’

86
Rani Anggraini Safitri /tyo

WARTABUANA – Jika Covid19 menebar musibah, Ketua Komunitas Sahabat Kartini Rani Anggraini Safitri justru ingin menyebarkan virus kebaikan bernama “berbagi”.  Virus baik yang dianjurkan semua agama dan wujud pengamalan Pancasila ini harus menyebar keseantero nusantara, terutama dimasa sulit seperti sekarang ini.

Bagi Rani, kata berbagi bukan sekadar kata, tetapi memiliki arti sangat berarti dari kisah dan pengalaman hidupnya. Peduli sesama sudah menjadi ‘candu’ dalam hidup pengusaha sekaligus sosialita cantik ini.

Menurut  Rani, semua orang pasti bisa dan memiliki kesempatan untuk berbagi. Apalagi bagi mereka yang kebetulan memiliki kemampuan wewenang dan harta. Namun tidak semua orang bisa berbagi disaat dirinya dalam keadaan sulit. “Padahal di saat seperti itulah rasa kepedulian kita sedang diuji,” ujar lulusan Universitas Jayabaya ini.

Ibu dua anak ini meyakini, semakin banyak berbagi atau bersedekah, harta kita tidak akan berkurang, bahkan sebaliknya, semakin bertambah. Rani sudah merasakan dan membuktikannya sendiri ‘keuntungan’ dari berbagi.

Rani yang tinggal di kawasan Cibubur ini sudah menebar sekitar 2.000 paket sembako sejak awal Pandemi Covid-19. Seperti candu, dia tidak pernah merasa puas berbagi. Jumat siang (8/5/2020) lalu, dia kembali berderma.

Kali ini Rani  tidak sendiri, dia merangkul koleganya, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Fadel Muhammad dan istrinya, Hana Hasanah yang juga Ketua SDGS Lira. Rani juga mengajak Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, M Taufik yang menjadi salah satu pembina di Yayasan Baahira.

Mereka membagikan puluhan paket sembako, masker, sabun dan hand sanitize kepada warga yang tinggal di kawasan padat penduduk Muara Baru, Jakarta Utara. Kondisi warga disana cukup memprihatinkan. Mereka tinggal berdesakan di kompleks hunian dari kayu di bibir pantai. Air laut persis berada dibawah puluhan rumah kayu.

Apalagi di saat sekarang ini, saya ingin menularkan ‘virus berbagi’ kepada teman-teman saya. Karena kalau semakin banyak yang tergerak, maka akan semakin banyak orang yang terbantu.

Anak Rusun

Ada yang menarik dari perjalanan menuju lokasi pembagian paket sembako. Sebelum masuk ke perkampungan padat Muara Baru, rombongan harus melalui deretan rumah susun Muara Baru. Begitu turun dari mobilnya, pandangan Rani langsung menyapu barisan rusun yang berjajar. Ada senyum tipis penuh makna di wajah yang berhias kacamata.

Ternyata, senyum tipis itu menyimpang banyak kisah dan cerita masa lalunya yang penuh perjuangan, mungkin bisa juga disebut penderitaan. Sosok Rani sekarang ini, dengan segala yang dimilikinya, tidak hadir begitu saja dengan satu kata ‘sim-salabim’.

Semua melalui proses panjang dan kisah hidup yang telah membentuknya menjadi wanita mandiri yang sangat peduli dengan sesama, terutama kaum wanita. Terbukti, dia mendedikasikan waktu dan materinya untuk dua yayasan yang dikelolanya, Sahabat Kartini dan Baahira.

Rumah susun bagi Rani adalah album foto usang penuh kenangan. Rani lahir dari keluarga berada, hingga usia sembilan tahun dia tinggal bersama orang tuanya di kawasan elit di Cipinang, Jakarta Timur. Untung tak dapat diraih, musibah sulit dicegah, Rani dan keluarga akhirnya terpaksa tinggal di rusun Klender, Jakarta Timur. Rani menjadi warga rusun hingga dirinya lulus SMA tahun 1998.

Hampir setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, Rani melintas di depan salah satu rumah megah berpagar tinggi dengan halaman luas tidak jauh dari blok rusun tempat tinggalnya. Dalam hati kecilnya, dia membandingkan rumah megah itu dengan dua unit rusun di lantai dasar milik orang tuanya.

“Karena selalu lewat depan rumah itu, dalam hati kecil saya berniat, suatu saat nanti saya harus punya rumah dengan pagar dan halaman. Serta tanpa penghuni lain tinggal diatas rumah saya,” ungkap Rani menceritakan secuil kisahnya.

Rani benar-benar mewujudkan niat itu. Di usia 19 tahun dia bekerja di perusahaan tambang. Tiga tahun kemudian dia bisa memiliki rumah sendiri yang memiliki halaman dan pagar, tanpa penghuni lain diatasnya.

Untuk berbagi, Rani tidak menunggu harus menjadi orang kaya. Begitu memiliki gaji sendiri, dia sudah memiliki banyak anak asuh yang dibiayai pendidikannya. Rani tidak pamrih, dia akan puas jika anak-anak asuhnya lulus sekolah, bekerja dan menjalanin kehidupan dengan normal.

“Banyak diantara mereka yang masih ingat saya. Kini mereka sudah berumah tangga, hidup normal, memiliki rumah sendiri dan pekerjaan tetap. Kabar baik seperti itulah yang membuat saya bahagia dan merasa apa yang saya lakukan tidak sia-sia,” paparnya.

Terus Berbagi

Seperti yang tersurat di QS An Nur 26 yang intinya orang baik akan berpasangan dengan orang baik, itulah yang terjadi di kehidupan Rani. Ketika hidupnya sudah mapan, bahkan bisa berbagi dengan sesama, dia berjodoh dengan Tonny Djayalaksana, mualaf yang juga pengusaha sukses.

Toni yang dijuluki ‘Mualaf Zaman Now’ bukan saja piawai berbisnis dan mengelola perusahaan besar. Dia juga seorang penulis. Buku perdana yang sempat membuat heboh dan laris berjudul “Aku Bersaksi Allah Maha Nyata”. Toni juga pernah mendapat anugerah dari Yayasan Peduli Indonesia (YPI) sebagai Person of The Year 2019.

Kebahagiaan Rani semakin lengkap dengan kehadiran buah hatinya,  Amanda (14) dan Sulaiman (9) yang dididiknya untuk hidup sederhana dan mandiri. Rani sering mengajak kedua anaknya saat berdonasi ke panti asuhan. Dia berharap mereka mengikuti gaya hidupnya yang kecanduan berderma.

Tidak lupa Rani menanamkan kemandirian bagi kedua anaknya. Terbukti, meski orang tuanya masuk kalangan ‘the have’, namun putri sulungnya tidak malu memproduksi kue dan menjualnya secara online. “Saya juga pernah melakukan hal serupa, bahkan waktu itu sangat sulit mencari pembeli kue buatan saya. Sekarang semua bisa dijual secara online,” kata Rani.

Orang boleh menyebut kehidupan Rani dan keluarga kecilnya sudah sempurna. Namun baginya kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Bagi Rani, hidup akan memilik arti jika kehadiran kita memberikan manfaat buat orang lain.

“Saya hanya berdoa, agar senantiasa diberi kemampuan untuk bisa berbagi. Jika tidak melakukan itu, rasanya seperti berdosa kenapa tidak bisa memberi solusi pada orang lain. Apalagi di saat sekarang ini, saya ingin menularkan ‘virus berbagi’ kepada teman-teman saya. Karena kalau semakin banyak yang tergerak, maka akan semakin banyak orang yang terbantu,” pungkasnya. []