Hantu Lokal VS Hantu Import, Lebih Seram Mana?

33

WARTABUANA – Kedai Kopi Lali Bojo yang berada di wilayah Pondok bambu, Jakarta Timur kembali menjadi tempat diselenggarakannya kegiatan Jakarta Horror Screen Festival 2020 yang di gagas oleh Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI).

Kegiatan talkshow yang membahas tentang industri film horor dan digelar setiap Kamis malam Jumat, pukul 20.00 WIB ini mengambil tema ‘Apanya Yang Menarik Sih di Film Horor?’.

Kali ini topik pembahasan mengacu pada polemik ‘Hantu di film horor Indonesia versus film horor asing, mana lebih menakutkan?’

Creative Director Jakarta Horror Screen Festival 2020, Teguh Yuswanto, menghadirkan bintang tamu; Hadijah Shahab, Nura Ivanka dan sutradara Surya Lawu, yang menjadi narasumber talkshow pada Kamis (27/2/2020).

Para pengunjung yang memadati Kedai Lali Bojo ikut menikmati berlangsungnya acara yang dipandu Ketua Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia, Kicky Herlambang.

Bintang film yang baru saja menyelesaikan pengambilan gambar di film terbarunya bergenre horor thriller dengan judul ‘Lantai 4’, Nura Ivanka mengatakan lebih suka lihat sosok hantu dan setan di film horor asing’.

“Menurut aku lebih creepy ajah. Para sineas luar (asing) sepertinya lebih detail kalau buat karakter karakter hantu yang bikin penonton ngeri ngelihatnya, ketakutan, juga kadang suka terbawa perasaan. Jadi seperti menciptakan ruang ketakutan dan kengerian sendiri di benak kita begitu selesai nonton,” kata Ivanka.

“Nah, kalau film horor kita, masih sedikit sineas yang mampu menampilkan sosok-sosok hantu yang betul-betul nakutin dan ngeri kalau dilihat. Yah kebanyakan sih masih seputar itu-itu aja, kunti lagi dan pocong lagi, lagi-lagi mereka,” paparnya kritis.

Bintang film muda Hadijah Shahab yang memukau banyak penonton lewat penampilannya menjadi lawan main Chelsea Islan dalam film ‘Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2’, punya pandangan sendiri kenapa ia lebih santai menikmati sosok-sosok hantu pabrikan Indonesia di film horor.

“Aku justru kebalikannya, malah lebih enjoy lihat hantu dan setan di film horor Indonesia. Karena banyak film horor Indonesia menampilkan keragaman setan dan hantunya,” aku Hadijah Shahab, pemeran Nara dalam ‘Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2’.

Pertimbangan Hadijah yang lebih menyukai sosok hantu lokal bukan karena dirinya sering tampil dalam film horor Indonesia seperti; ‘Sebelum Iblis Menjemput’ (2018) dan ‘Mata Batin 2’ (2019), namun memang para sineas horor tanah air masih mengedepankan lokal wisdom, ketimbang mencomot hantu-hantu atau iblis rekaan Hollywood, Asia, bahkan Eropa sekalipun.

“Aku masih punya harapan besar bahwa masih banyak sutradara film horor Indonesia belakangan ini kreatif untuk menampilkan hantu-hantu dalam filmnya, udah nggak norak lagi seperti belasan tahun silam. Saat ini para pembuat film horor jauh lebih kreatif, juga pengaruh perkembangan pesat teknologinya,” tambah Hadijah.

Sementara sutradara berjulukan ‘1000 judul’ Surya Lawu Saputra, yang selama 20 tahun malang melintang di layar kaca, memberikan koreksinya yang cukup menyadarkan kita.

“Jadi kalau saya melihat bedanya cara orang Hollywood membuat film horor, itu memang pasti berbeda dengan para film-maker di sini. Umpama bagaimana mereka menciptakan karakter setan atau iblis yang biasa kita sebut hantu dalam film horor yang bertugas menteror lawan mainnya,” ujar Surya.

“Seperti boneka Iblis Annabelle ciptaan James Wan, nggak perlu sibuk boneka itu menggerak-gerakkan dirinya supaya terlihat mengerikan dan seram. Coba anda lihat saja sejenak, boneka itu diam, rasa seram dan nakutinnya dah kuat kan?”

“Sementara Pocong atau Kuntilanak bahkan Jelangkung, atau sebutlah merek-merek setan pabrikan sineas kita, masih harus sibuk untuk menggerakkan tubuhnya supaya punya efek itu tadi. Tapi mungkin ini tradisi dalam film horor kita, yang besok atau lusa juga akan berubah,” tambah Surya.

Film horor Indonesia memang masih butuh waktu panjang untuk meleluasakan diri sebagai produk industri seperti halnya Thailand, Hongkong, Timur Tengah, Korea, dan Jepang, tanpa kecuali Hollywood yang menjadi pelopor industrti horor.

Perhelatan Jakarta Horror Screen Festival 2020, yang mengawali debutnya lewat program talkshow dengan tema utama ‘Apanya Yang Menarik Sih Di Film Horor?’ setiap Malam Jumat di Kedai Kopi Lali Bojo, semoga mampu menjadi kekuatan moral bagi industri kreatif ini, setidaknya ajang penghragaan ini punya taring untuk menjadi panggung penghormatan bagi para sineas dan film maker tanah air maupung asing.[]