Migi Rihasalay Merancang Masker dan Membagikannya di Desa Terpencil

13

WARTABUANA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia telah menggugah banyak orang untuk berkarya sambil menolong sesama. Salah satunya Desainer Migi Rihasalay yang mendesain masker, memproduksinya dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masayarakat yang membutuhkan.  

Sebagai perancang busana muda, Migi Rihasalay tidak merasa kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi kendala untuk berkarya. Justru sebaliknya, keadaan ini melahirkan ide membuat masker istimewa.

 

Migi Rihasalay /ist

Migi Rihasalay mendesain masker dengan gambar bola dunia yang memakai masker dan meneskan air mata. “Simbol tersebut saya desiain menggunakan sketsa tangan pada 30 Maret 2020. Ini bentuk kesedihan saya di awal Maret saat nyaris seluruh Indonesia harus ‘di rumah saja’, bahkan nyaris seluruh dunia juga mengalami lockdown,” ujar Migi, Jumat (22/5/2020)

Di Tanjung Lesung, ia sempat masuk ke Desa Legon Dedap yang belum terjangkau aliran listrik. Ada sekitar  20 kepala keluarga mendiami desa terpencil ini. Migi Rihasalay terpaksa berjalan kaki lumayan jauh untuk tiba di sana.

Gambar bola dunia yang menggunakan masker dan meneteskan air mata itu menurut Migi Rihasalay mewakili perasaannya yang merasakan tangisan di seluruh dunia akibat wabah Corona.

Karyanya ini juga sekaligus untuk menjawab jika ia tak berhenti berkreativitas selama dirinya beserta sang suami, Andrew James rumah saja. “Di rumah, bukan berarti saya juga harus diam saja. Saya masih mencoba untuk tetap produktif,” ucap Migi.

Migi Rihasalay mengisi kegiatan selama masa PSBB dengan aksi sosial dengan mengunjungi beberapa klinik dan posko PMI guna membagikan masker hasil desainnya. “Ini baru sebagian saja. Masker ini kita buat satu bulan ini dan memang untuk charity. Saya kirim  juga ke Bali, Padang, Jakarta dan Tanjung Lesung,” ucapnya.

Di Tanjung Lesung, ia sempat masuk ke Desa Legon Dedap yang belum terjangkau aliran listrik. Ada sekitar  20 kepala keluarga mendiami desa terpencil ini. Migi Rihasalay terpaksa berjalan kaki lumayan jauh untuk tiba di sana.[]